Meski Rupiah Menguat, Pengusaha Tetap Perlu Pahami Hedging
18 April 2016, 14:22:35 Dilihat: 8x

Penguatan rupiah diperkirakan akan terus berlanjut. Hal ini didorong oleh kondisi fundamental ekonomi yang mulai pulih, harga komoditas yang mulai menguat, serta langkah BI yang kembali memangkas tingkat suku bunga acuan di level 6,75 persen. Gerak nilai tukar rupiah yang mulai menguat ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dengan perdagangan di awal pekan ini juga terpantau mengalami penguatan (periode 11- 18 Maret 2016)



Menurut Head of Treasury BCA Branko Windoe, faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah bisa datang dari faktor rupiah maupun dollar. Kadang salah satunya mendominasi, kadang keduanya berjalan beriring, kadang pula saling bertolak belakang. “Setelah sempat melemah ke hampir Rp 15.000, sekarang situasinya berbalik karena potensi kenaikan suku bunga AS yang mengecil,” kata Branko ketika ditemui di Jakarta, Jumat (18/3) lalu.




 



Dari dalam negeri sendiri, ia menyebutkan sejumlah faktor yang menopang penguatan rupiah saat ini. Surplusnya neraca transaksi berjalan serta cadangan devisa yang meningkat adalah salah satunya. Investasi asing di pasar saham Indonesia maupun investasi orang Indonesia di pasar saham luar negeri, juga memberikan pengaruh. Selain itu juga foreign direct investment dari perusahaan asing ke Indonesia.



“Jika dilihat dari titik awal Rp 12.500, menurut saya selama belum kembali tembus Rp 12.500 sebenarnya rupiah belum sepenuhnya menguat. Karena saat inipergerakan kurs masih didominasi oleh faktor-faktor dari perekonomian global. Sedangkan dari pasar domestik biasanya pada kuartal baru akan terlihat lonjakan dari permintaan, dengan datangnya momen kebutuhan bahan baku menyambut hari Lebaran,” ujar Branko.



Ketika ditanya hingga apakah penguatan nilai tukar rupiah bisa terus bertahan, secara teoritis Branko menjawab bahwa hal itu tergantung kepada nilai inflasinya. Ia mengatakan, “Nilai inflasi AS yaitu 1 persen dan Indonesia 4persen. Artinya, rupiah secara natural akan melemah terhadap dollar sebanyak 3 persen. Jika dilihat ke belakang, inflasi Indonesia tidak pernah lebih kecil dari AS. Jadi ke depannya sudah diperkirakan bahwa rupiah akan melemah setiap tahun sebesar inflation differential itu.”



Yang patut digarisbawahi, Branko menyebutkan, untuk negara berkembang seperti Indonesia ini justru inflasi diperlukan. “Kalau tidak ada inflasi, roda ekonomi tidak bisa berputar. Tidak ada pertumbuhan. Harga bisa turun karena pembelinya sedikit, atau jika penduduknya berkurang,” jelasnya. Sementara Indonesia, dalam satu tahun, jumlah penduduknya mengalami lonjakan sebesar 1,49 persen. Ini artinya pertambahan penduduk Indonesia setara dengan jumlah penduduk Singapura.



“Jika setiap tahun ada pertambahan penduduk 1,49 persen, artinya harus ada tambahan 1,49 persen barang kebutuhan. Kenaikan produksi belum tentu bisa selalu mengejar angka ini. Itulah kemudian ada penawaran yang lebih tinggi agar tetap mendapatkan barang. Jika ditekan, tidak boleh inflasi, maka harga tidak bisa naik dan berakibat pada kelangkaan barang. Muncul pasar gelap, yang pada akhirnya akan memaksa kenaikan harga juga,” paparnya.



Maka, lanjut Branko, setiap tahunnya rupiah wajar jika harus melemah terhadap dollar. “Normalnya memang begitu, selama Indonesia masih mengalami inflasi yang lebih tinggi dari AS. Nah melemahnya berapa? Maksimum 5 persen per tahun itu masih sehat. Kalau terlalu tinggi, tidak masuk akal. Kalau kita lihat sekarang, 5 persen dari Rp 13.000 yaitu Rp 700. Jadi tahun berikutnya seharusnya terjadi pelemahan maksimum Rp 700,” katanya.



Pentingnya Hedging Bagi Pengusaha



Branko memandang perlunya meluruskan persepsi soal nilai tukar rupiah ini. “Tugas dari otoritas moneter adalah membuat nilai tukarnya stabil. Bukan harus ditahan, dibuat melemah atau menguat. Jangan sampai, terjadi pergerakan terlalu drastis. Misalnya ketika akan ekspor, rupiah menguat sampai Rp 10.000. Kemudian ketika harus impor, rupiah melemah menjadi Rp 15.000. Yang seperti ini tentu akan membuat susah pengusaha.”



Untuk menghindari risiko pelemahan nilai tukar rupiah, pelaku usaha didorong untuk memanfaatkan fasilitas hedging atau lindung nilai. Hedging bertujuan melindungi nasabah dari ancaman fluktuasi rupiah, sekaligus menolong bank dari sisi kredit bermasalah. Hedging memang menjadi penting karena banyak perusahaan Indonesia mengambil dana dari luar dan menjalankan operasional perusahaannya dalam rupiah, atau sebaliknya. Selain itu hedging juga berperan di sektor komoditas, dengan hampir 60 persen ekspor Indonesia merupakan komoditas.



Tren pelemahan rupiah yang terjadi belum lama ini diakui Branko mendorong lebih banyak perusahaan untuk melakukan hedging. Namun karena rupiah tengah menguat, bukan lantas hedging bisa diabaikan. Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur, Branko menyarankan agar memahami pentingnya hedging ini. “Hedgingbisa dianggap sebagai biaya untuk mencegah biaya lain yang bisa keluar lebih tinggi tanpa disangka-sangka. Dalam jangka panjang, gamblers yang untung-untungan pasti kalah,” terangnya.



Menurut Branko, sejauh ini, perusahaan multinasional memiliki kesadaran yang jauh lebih tinggi untuk melakukan hedging. “Perusahaan asing itu 90 persen sudah melakukan hedging. Sementara perusahaan lokal, baik pemerintah maupun swasta, masih sedikit karena biaya hedging yang dinilai tinggi,” ujar Branko. Padahal, ia menyebutkan, biaya hedging sudah dapat langsung dimasukkan ke komponen biaya melalui akuntansi hedging.



“Ada caranya supaya hedging tidak masuk ke laba rugi, tetapi menjadi komponen biaya. Misalnya tahun lalu, harga produk dan jasa perusahaan menjadi lebih mahal 5 persen dibanding yang tidak hedging, tapi dia aman dari terkena depresiasi rupiah sebesar 10 persen,” ujarnya, “Untuk itu, BCA dengan senang hati akan membantu nasabah. Kami akan bantu mengajarkan mengenai teknis-teknis hedging, juga jenis instrumen-instrumennya. Silakan ditanyakan langsung ke kantor-kantor cabang BCA terdekat.”



Menutup perbincangan, Branko menegaskan bahwa bisnis inti para pengusaha terletak pada jual beli produk dan jasa. “Pada umumnya nasabah cenderung tertinggal soal pergerakan nilai kurs di pasar. Itu wajar karena itu bukan bisnis mereka, melainkan jual beli barang dan jasa. Maka jangan sampai mereka harus turut mengambil risiko terhadap perubahan kurs. Kami dapat membantu nasabah agar tetap fokus pada bisnis mereka,” tandasnya.

Share:

UN Videos

UN Cooperation

De Montfort Leicester University Alexandria University Chiang mai university Derby University
 
Essex I Coe Rel UTHM ICOGOIA University Malaysia PAHANG Universiti Utara Malaysia
 
National University Kaohsiung Taiwan Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin Prince Sultan University Quest Nawab Shah Pakistan Universiti Teknologi MARA
 
Universiti Kebangsaan Malaysia Universiti Malaysia Kelantan Universiti Malaysia Perlis Universiti Zainal Abidin Universiti Sains Malaysia
 
Universiti Pendidikan Sultan Idris Erasmus

 

INTAKINDO PT. Aria Jasa Konsultan Bumi Harmoni Indoguna Cakra Buana Consultan Ciria Jasa Consultant
 
Internasional Peneliti Sosial Ekonomi Teknologi PT. Jasa Raharja NOKIA INKINDO MASKA
 
Surabaya TV PT. Amythas General Consultant
 
       

 

Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia IT Telkom Surabaya Institut Aditama Surabaya Institut Teknologi Nasional Malang
 
Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Politeknik Negeri Malang Universitas Pakuan Universitas Nasional Kualita Pendidikan Indonesia
 
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Politeknik Negeri Bali Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Pasuruan
 
Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul `Ula Nganjuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Anwar Mojokerto STIE NU Trate Gresik Sekolah Tingi Ilmu Ekonomi Widya Gama Lumajang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yapan Surabaya
 
STIE Pemuda STIKOSA STKIP PGRI Bangkalan STKIP PGRI Jombang STKIP PGRI Sidoarjo
 
STT Pomosda Nganjuk UINSA Universitas Mercu Buana Universitas Airlangga Universitas Darul `Ulum Jombang
 
Universitas Negeri Surabaya Universitas Brawijaya Malang Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya UNIPDU
 
UNISLA UNISMA Universitas 45 Bekasi Universitas Dr.Soetomo UNITRI
 
Universitas 45 Surabaya Universitas Bondowoso Universitas Islam Madura Pamekasan Universitas Jember Universitas Maarif Hasyim Latif
 
Universitas Madura Universitas Merdeka Surabaya Universitas Bina Darma Universitas Wijaya Putra Universitas Padjajaran
 
Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Muhammadiyah Papua Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Muhammadiyah Surabaya Universitas Negeri Malang
 
Universitas Islam Raden Rahmat Universitas Widyagama Malang Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya UWIKA Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
 
UNIVERSITAS SUNAN BONANG TUBAN Universitas 17 Agustus Surabaya UNUGIRI Bojonegoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
 
Akademi Pariwisata Majapahit  

 

Copyright (c) 2026 by Fakultas Ekonomi dan Bisnis, All Rights Reserved.