Melihat Akuntansi Forensik dari Kacamata KAP
04 September 2013, 08:59:29 Dilihat: 3x

“Indonesia masih jauh tertinggal mendalami akuntansi forensik. Tak semua kantor akuntan publik membidangi forensik. Perlunya profesi ini baru terasa tatkala krisis ekonomi dan makin banyaknya kasus korupsi yang mengapung pada 1997”.



Saya tidak yakin para auditor kita memiliki kemampuan akuntansi forensik, komentar Ketua Umum Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Ahmadi Hadibroto. Menurut Ahmadi, masih jarang akuntan Indonesia yang mendalami bidang yang satu ini.



Sayangnya, asosiasi profesi akuntan yang paling diakui ini juga belum melirik forensik sebagai bagian penting dari akuntansi. Kita belum lihat itu sebagai isu yang mendesak untuk kita berikan perhatian khusus, sambung Ahmadi.







Bahkan, Ahmadi sendiri kurang berminat mengambil spesialisasi ini. Alasannya, apa lagi kalau bukan ceruk pasar yang masih minim. Saya sendiri tak punya kemampuan di situ. Dan saat ini saya tidak punya keinginan untuk mempelajari bidang ini. Belum banyak pasarnya, celetuknya terus terang. Ahmadi sehari-hari buka praktek di Kantor Akuntan Publik KPMG Hadibroto -salah satu KAP terpandang.



Ahmadi -setidaknya hingga saat ini- boleh saja masih mengecilkan profesi ini. Namun sebenarnya profesi ini banyak yang membutuhkan. Kalau memang berkompeten, silakan tawarkan jasa itu. Tapi kalau tak mampu, jangan dong. Makanya harus hati-hati, ujarnya.



Sebenarnya bidang yang masih minim diminati di kalangan akuntan itu sendiri dapat menerbitkan peluang tersendiri. Setidaknya hal itulah yang dibidik oleh KAP PricewaterhouseCooper Indonesia (PwC). Kami saat ini punya 15 akuntan forensik serta 50 akuntan lainnya yang sedang kami bekali berbagai keahlian, termasuk akuntansi forensik, tutur Direktur PwC Widiana Winawati. Di kantornya, Widiana membawahkan divisi forensik.



Widiana secara terpisah mengakui pernyataan Ahmadi. Memang belum banyak akuntan yang melirik profesi unik ini. Hal itu lantaran, Spesialisasi di Indonesia tergolong baru. Masih banyak akuntan yang belum sadar akan adanya profesi ini.



Bermula dari Krisis



Widiana mencatat tahun 1997 adalah titik awal perkembangan genre ini. Krisis ekonomi kala itu membuat pemerintah meminta bantuan dari IMF dan Bank Dunia, ujar Widiana menerangkan. Lembaga internasional tersebut mengusung resep penyehatan perbankan, yang dikenal dengan istilah agreed-upon due dilligence process (ADDP). Formulasi ADDP ini sama halnya dengan audit investigasi.



Menurut Widiana, mulai saat itulah publik makin menuntut penuntasan kasus korupsi. Tingkat korupsi yang tinggi mendorong perkembangan profesi ini, imbuhnya. Widiana dengan bangga memberi contoh, pengungkapan kasus Bank Bali adalah prestasi kantornya. Kami sukses mengidentifikasi arus dana yang rumit, sambungnya.



Widiana meramalkan profesi ini bakal berkembang pesat ke depannya. Maklum, kini makin banyak kantor bisnis dari negara asing yang masuk ke Indonesia. Konsekuensinya, selain mematuhi hukum di sini, mereka juga tetap memegang peraturan negara asalnya. Kalau tidak, mereka bisa terkena tuntutan denda dan pidana, tuturnya. Contohnya perusahaan asal Amrik. Negeri Paman Sam ini punya peraturan yang bertajuk US Foreign Corrupt Practices Act.



Kecakapan Komplet



Widiana berpendapat seorang akuntan forensik harus memiliki multitalenta. Seorang pemeriksa kecurangan (fraud) dapat diumpamakan sebagai gabungan antara pengacara, akuntan, kriminolog, dan detektif, tandasnya.



Selain itu, Widiana menambahkan, seorang akuntan forensik harus memiliki sejumlah sifat dasar. Antara lain, hati-hati, mampu menjaga rahasia pekerjaannya, kreatif, pantang menyerah, punya rasa ingin tahu yang besar, percaya diri, serta yang paling penting adalah jujur, sambung Widiana.



Dibanding akuntan lainnya, seorang akuntan forensik memiliki tugas yang paling berat. Kalau akuntan internal adalah polisi, auditor adalah petugas patroli, dan akuntan forensik adalah seorang detektif, sambung Widiana.



Tugas utama dari akuntan di perusahaan adalah mencatat dan menjaga kelancaran arus keuangan perusahaannya. Sedangkan auditor lebih seperti petugas patroli yang melakukan inspeksi dan pengecekan rutin atas area berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya.



Akuntan forensik melakukan inspeksi dan pengecekan yang lebih terperinci dan seksama dibandingkan dengan petugas patroli.
 

Share:

UN Videos

UN Cooperation

De Montfort Leicester University Alexandria University Chiang mai university Derby University
 
Essex I Coe Rel UTHM ICOGOIA University Malaysia PAHANG Universiti Utara Malaysia
 
National University Kaohsiung Taiwan Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin Prince Sultan University Quest Nawab Shah Pakistan Universiti Teknologi MARA
 
Universiti Kebangsaan Malaysia Universiti Malaysia Kelantan Universiti Malaysia Perlis Universiti Zainal Abidin Universiti Sains Malaysia
 
Universiti Pendidikan Sultan Idris Erasmus

 

INTAKINDO PT. Aria Jasa Konsultan Bumi Harmoni Indoguna Cakra Buana Consultan Ciria Jasa Consultant
 
Internasional Peneliti Sosial Ekonomi Teknologi PT. Jasa Raharja NOKIA INKINDO MASKA
 
Surabaya TV PT. Amythas General Consultant
 
       

 

Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia IT Telkom Surabaya Institut Aditama Surabaya Institut Teknologi Nasional Malang
 
Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Politeknik Negeri Malang Universitas Pakuan Universitas Nasional Kualita Pendidikan Indonesia
 
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Politeknik Negeri Bali Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin Pasuruan
 
Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul `Ula Nganjuk Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Anwar Mojokerto STIE NU Trate Gresik Sekolah Tingi Ilmu Ekonomi Widya Gama Lumajang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yapan Surabaya
 
STIE Pemuda STIKOSA STKIP PGRI Bangkalan STKIP PGRI Jombang STKIP PGRI Sidoarjo
 
STT Pomosda Nganjuk UINSA Universitas Mercu Buana Universitas Airlangga Universitas Darul `Ulum Jombang
 
Universitas Negeri Surabaya Universitas Brawijaya Malang Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya Universitas PGRI Adi Buana Surabaya UNIPDU
 
UNISLA UNISMA Universitas 45 Bekasi Universitas Dr.Soetomo UNITRI
 
Universitas 45 Surabaya Universitas Bondowoso Universitas Islam Madura Pamekasan Universitas Jember Universitas Maarif Hasyim Latif
 
Universitas Madura Universitas Merdeka Surabaya Universitas Bina Darma Universitas Wijaya Putra Universitas Padjajaran
 
Universitas Muhammadiyah Malang Universitas Muhammadiyah Papua Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Universitas Muhammadiyah Surabaya Universitas Negeri Malang
 
Universitas Islam Raden Rahmat Universitas Widyagama Malang Universitas Pembangunan Nasional Veteran Surabaya UWIKA Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
 
UNIVERSITAS SUNAN BONANG TUBAN Universitas 17 Agustus Surabaya UNUGIRI Bojonegoro Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
 
Akademi Pariwisata Majapahit  

 

Copyright (c) 2026 by Fakultas Ekonomi dan Bisnis, All Rights Reserved.